Jenis-Jenis Induksi Persalinan yang Perlu Diketahui

Monday, August 14th, 2017 - persalinan

Jenis-Jenis Induksi Persalinan yang Perlu Diketahui,- Waktu persalinan merupakan waktu yang paling ditunggu sekaligus cukup menegangkan bagi sebagian ibu wanita hamil. Menunggu waktu persalinan mungkin akan membuat ibu agak stres dan khawatir karena terlalu banyak memilikirkan apa yang akan terjadi sebelum, saat, dan setelah persalinan.

Sebelum persalinan ibu hamil mungkin akan merasakan mulas yang tidak tertahankan. Namun, terkadang beberapa ibu tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan meskipun waktunya sudah tiba. Jika hal tersebut terjadi, mungkin dokter atau bidan akan melakukan induksi persalinan pada ibu hamil.

Induksi persalinan adalah prosedur yang digunakan untuk merangsang kontraksi rahim sebelum persalinan dimulai dengan sendirinya. Jika tanda-tanda persalinan tidak mulai dengan sendirinya, maka induksi persalinan mungkin akan dilakukan untuk merangsang bayi agar cepat lahir. Kondisi kehamilan dapat menjadi alasan mengapa induksi persalinan dilakukan, terutama yang menyangkut kondisi kesehatan ibu atau bayi.

Terdapat 2 cara yang biasa dilakukan untuk melalui proses induksi, yaitu secara kimia atau mekanik. Namun, pada dasarnya, kedua cara ini dilakukan untuk mengeluarkan hormon prostagladin yang berfungsi sebagai zat penyebab otot rahim berkontraksi.

Sebelum melakukan induksi, alangkah baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu jenis-jenis induksi persalinan yang biasa dilakukan, yaitu diantaranya :

Infus oksitosin

Hormon yang dihasilkan oleh infus oksitosin dapat menyebabkan kontraksi pada otot polos uterus yang dapat digunakan pada dosis farmakologik yang dapat menginduksi proses persalinan. Sebelum bayi lahir dalam proses persalinan yang timbul secara spontan, namun ternyata rahim juga sangat peka oleh oksitosin. Pada saat proses persalinan itu dimulai, serviks dapat berdilatasi yang kemudian dapat memulai refleks neural yang dapat menstimulasi lepasnya oksitosin dan juga kontraksi uterus pada selanjutnya.

Agar dapat menghasilkan efek yang terdapat pada uterus, diperlukan dosis yang cukup kuat. Dosisnya ada pada 4 hingga 16 mili setiap menitnya. Namun, dosis bagi setiap orang berbeda-berbeda, biasanya dosis dimulai dari yangpaling rendah dengan melihat kontraksi uterus serta kemajuan proses persalinan.

Prostaglandin

Pemberian prostagladin dapat merangsang otot-otot polos termasuk juga otot-otot rahim. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria).

Pada kehamilan aterm, induksi persalinan dengan prostagladin cukup efektif untuk memperpendek proses persalinan, menurunkan angka caesar dan menurunkan angka skor kurang dari 4.

Cairan hipertonik intra uteri

Pemberian cairan ini biasanya digunakan untuk merangsang terjadinya kontraksi pada rahim saat kehamilan dengan janin yang mati. Cairan hipertonik yang digunakan ini bisa berupa cairan garam hipertonik 20, atau urea. Namun, terkadang pemakaian urea ini dicampur menggunakan prostaglandin yang dapat memperkuat rangsangan terhadap otot rahim. Namun, dengan cara seperti ini bisa menimbulkan beberapa penyakit yang berbahaya. Seperti hipernatremia, gangguan pembekuan darah dan juga infeksi.

Amniotomi

Amniotomi artifisialisis ini dilakukan dengan menggunakna cara memecahkan ketuban, baik pada bagian bawah di depan atau fore water maupun bagian belakang atau hind water dengan menggunakan alat khusus ialah drewsmith catheter juga omnihook yang biasanya dikombinasi dengan memberikan oksitosin.

Foley Catheter

Foley Catheter digunakan untuk mematangkan serviks dan induksi persalinan. Kontraindikasi terjadi jika ada riwayat perdarahan, ketuban pecah, pertumbuhan janin terhambat dan infeksi vaginal.

Rangsangan puting susu (Breast Stimulation)

Rangsangan puting susu dapat mempengaruhi hipofisis posterior untuk mengeluarkan oksitosis, sehingga bisa menyebabkan terjadinya kontraksi rahim. Rangsangan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pijat ringan dengan ibu jari di daerah areola mammae pada salah satu puting susu.

Untuk menghindari lecet, Anda bisa menggunakan minyak atau baby oil. Pijat ringan ini dapat dilakukan setengah jam hingga 1 jam, lakukan sehari maksimal 3 jam. Tidak dianjurkan untuk melakukan pijat pada kedua payudara secara bersamaan, karena dikhawatirkan akan terjadi perangsangan yang berlebihan.

Penggunaan rangsangan listrik

Induksi melalui rangsangan listrik ini dilakukan dengand ua elektrode yang diletakkan dalam servik dan ditempelkan pada dinding perut. Kemudian dialirkan listrik untuk memberi rangsangan pada serviks sehingga menimbulkan kontraksi rahim.

By Sri Maryati

Jenis-Jenis Induksi Persalinan yang Perlu Diketahui | Intan Nuraeni | 4.5