Mewaspadai Penyebab Ibu Meninggal Setelah Melahirkan

Friday, August 25th, 2017 - persalinan

Mewaspadai Penyebab Ibu Meninggal Setelah Melahirkan,- Kematian saat melahirkan merupakan kasus yang serius. Pada tahun 2013 diperkirakan 289.000 wanita meninggal dunia saat persalinan. Angka ini mengalami penurunan dari 523.000 pada tahun 1990. Namun, saat ini, setiap harinya 800 wanita atau setara dengan 33 kasus per jam di seluruh dunia masih mengalami kritis karena komplikasi kehamilan dan persalinan.

Pada akhir tahun 2015 saja, WHO melaporkan setidaknya 303.000 wanita di seluruh dunia meninggal menjelang dan selama proses persalinan. Di Indonesia sendiri, terdapat 126 kasus kematian ibu tiap 100.000 proses persalinan sukses sepanjang tahun 2011-2015.

Kematian ibu saat melahirkan bisa disebabkan oleh kondisi ibu saat kehamilan, pada saat persalinan, atau dalam waktu 42 hari setelah melahirkan (masa nifas). Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini merupakan beberapa penyebab ibu meninggal setelah melahirkan yang perlu diwaspadai :

  • Perdarahan

Perdarahan bisa terjadi mulai dari masa kehamilan, melahirkan, hingga setelah melahirkan. Ibu harus selalu measpadai tanda-tanda perdarahan, seperti keluarnya darah merah segar lebih dari 1.000 ml secara terus-menerus. Tanda lainnya seperti sesak napas, pusing, penglihatan kabur, dan ada rasa ingin pingsan.

Perdarahan setelah melahirkan bisa disebabkan karena vagina atau leher rahim robek atau saat rahim tidak berkontraksi setelah melahirkan. Namun, biasanya perdarahan berat juga disebabkan oleh masalah plasenta selama kehamilan, seperti abrupsio plasenta, yaitu kondisi dimana plasenta terpisah dari rahim sebelum waktu kelahiran.

  • Preeklamsia

Preeklamsia terjadi akibat gangguan tekanan darah atau hipertensi. Preeklamsia berisiko menghambat arteri yang membawa darah ke plasenta sehingga mengurangi jumlah oksigen dan nutrisi ke janin. Jika tidak terkontrol, preeklamsia bisa menjadi eklamsia yang menyebabkan kejang. Kejang dapat merusak organ vital ibu dan dapat menyebabkan koma, kerusakan otak, hingga kematian. Faktor risiko preeklamsia yang perlu diwaspadai antara lain usia kehamilan tidak ideal, obesitas, serta memiliki risiko tekanan darah tinggi.

  • Infeksi

Infeksi bisa terjadi jika terdapat bakteri yang masu ke tubuh dan tubuh tidak bisa melawan. Beberapa infeksi bisa sampai menyebabkan ibu meninggal setelah melahirkan. Ibu hamil yang terinfeksi kelompok bakteri Streptokokus B dapat mengalami sepsis (infeksi darah).

Sepsis ini kemudian dapat menyerang sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan masalah yang parah hingga kematian. Terkadang, sepsis juga bisa menyebabkan penggumpalan darah pada ibu hamil, sehingga menghalangi aliran darah ke organ penting ibu, seperti otak dan jantung. Hal ini kemudian dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ dan bahkan kematian.

Baca Juga : Cara Mengobati Infeksi Jamur Vagina pada Ibu Hamil

  • Kardiomiopati

Selama kehamilan, fungsi jantung wanita mengalami perubahan yang cukup banyak. Hal ini membuat ibu hamil yang memiliki penyakit jantung berisiko tinggi untuk mengalami kematian. Kardiomiopati adalah salah satu penyakit pada jantung yang dapat menyebabkan kematian ibu hamil.

Kardiomiopati adalah penyakit otot jantung yang membuat jantung lebih besar, lebih tebal, atau lebih kaku. Penyakit ini bisa membuat jantung lemah, sehingga tidak bisa memompa darah dengan baik. Pada akhirnya, kardiomiopati bisa menimbulkan masalah, seperti gagal jantung atau penumpukan cairan di paru-paru.

  • Emboli paru

Emboli paru merupakan gumpalan darah yang menghalangi pembuluh darah di paru-paru. Hal ini biasanya terjadi ketika gumpalan darah yang ada di kaki atau paha atau disebut juga dengan deep vein thrombosis (DVT) pecah dan mengalir ke paru-paru.

Emboli paru dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah, sehingga biasanya gejala yang timbul adalah sesak napas dan nyeri dada. Organ tubuh yang tidak mendapatkan cukup oksigen dapat mengalami kerusakan, dan hal ini kemudian bisa menyebabkan kematian.

Untuk mencegah terjadinya emboli paru dan DVT, maka alangkah baiknya ibu bangun dan berjalan sesegera mungkin setelah melahirkan. Sehingga darah bisa mengalir dengan lancar dan tidak terjadi gumpalan darah.

By Sri Maryati

Mewaspadai Penyebab Ibu Meninggal Setelah Melahirkan | Intan Nuraeni | 4.5